babi atau hantu

Pergi ke sekolah itu sesuatu yang sederhana bagi anak-anak lain tapi akan menjadi rumit buatku.

Lewat kali atau jalan raya?

Setiap hari pertanyaan inilah yang harus aku geluti saat mengenakan sepatu, mengambil tas dan beranjak ke sekolah:

Aku bersekolah di SD Inpres Oeba 1 di Kupang. Rumahku tidak jauh dari sekolah. Hanya butuh waktu sekitar 15 sampai 20 menit berjalan kaki. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, lewat jalan raya atau mengambil jalan pintas menyeberang kali kering di belakang Kompleks Asrama Brimob, tempat tinggal kami.

SD N 1 Oeba, Kupang, kondisi saat ini. Tidak banyak berubah kecuali, lapangan sekolah ini rasanya luas sekali dulu

Lewat jalan raya tentunya adalah pilihan pertama buatku. Namun, ada pengalaman yang sangat menjengkelkan yang mengganggu  jika aku mengambil jalur ini.

Ada dua toko yang akan selalu kuingat di jalan raya ini: Toko Gaya Baru dan Maubesi. Keduanya dimiliki oleh orang sama atau satu rumpun keluarga yang sama. Toko Gaya Baru menjual barang kelontong sedangkan Maubesi menjual berbagai barang bangunan. Hingga saat ini, bangunan dua toko ini masih ada namun nama maupun tokonya telah berubah.

Apakah sudah berpindah tangan sekarang ya?

Kompleks dua toko ini berada di pertigaan Jalan Nangka dan Timor Raya, dulunya disebut Jalan Tim-Tim. Walaupun bisa dibilang letak toko ini di tengah kota, pemilik toko memelihara ternak babi, bukan satu, dua ataupun tiga ekor, melainkan segerombolan! Bisa sekitar hampir 20 ekor banyaknya, bahkan lebih. Ukuran setiap ekornya lebih besar dari seekor kambing jantan dewasa dan untuk anak SD seperti ku berarti hampir setinggi dada, dan itu sangat menakutkan.

Setiap pagi, babi-babi itu dilepas dari kandangnya dan mereka secara mandiri keluar bergerombol dari pintu gerbang belakang kompleks toko lalu menyeberang jalan raya ke arah tanah kosong, menuruni bukit menuju ke kali mati (dialek Kupang untuk kali kering tidak berair) dan berdiam di sana hingga sore sebelum pulang kembali ke kandang.

Suatu ketika dirundung nasib yang kurang beruntung, aku harus berpapasan dengan gerombolan ini saat pulang sekolah. Entah karena wajahku yang dekil, atau karena seragam celana pendek merahku yang mencolok, dua atau tiga ekor babi dari gerombolan ini memutuskan bahwa aku adalah makhluk pengancam keselamatan mereka. Mereka berbalik arah dan mulai mengejarku. Aku lari terbirit-birit menyelamatkan nyawa. Selama seminggu setelah itu, aku tidak pernah lagi melewati Jalan Nangka.

Alternatif lain untuk pergi ke sekolah adalah lewat jalan pintas di belakang Kompleks Asrama Brimob. Waktu yang ditempuh relatif lebih cepat namun ini berarti aku harus menguji nyali melewati pohon-pohon rimbun dan kali mati. Menyeramkan karena di pagi hari suasananya sedikit temaram, dan sunyi. Ada dua hal yang paling aku takutkan jika lewat jalan ini; hantu atau orang potong kepala.

Apa itu orang potong kepala?

Menurutku ini adalah salah satu tindakan bodoh dan menjengkelkan dari orang-orang tua di Kupang saat itu. Agar anak-anaknya mau beristirahat tidur siang setiap hari, mereka bercerita horor bahwa ada orang-orang tak dikenal yang berkeliaran, mencari dan menangkap anak-anak kecil yang sedang bermain untuk dipenggal kepalanya dan dijadikan tumbal pembangunan jembatan-jembatan panjang di desa. Konon, tumbal ini dibutuhkan untuk menjamin pondasi jembatan bisa tahan dan kuat hingga berpuluh-puluh tahun. Cerita horor seperti ini menghantui setiap anak saat itu dan, aku tidak akan kaget jika mengetahui ada yang tetap percaya akan hal ini hingga dewasa.

Butuh nyali yang besar kalau aku harus melewati jalan pintas kali mati ini sendirian. Cara terbaik yang aku lakukan adalah berlari secepat-cepatnya menuruni bukit, menyeberang kali, lalu berlari naik dengan kilat untuk segera tiba kembali ke peradaban dunia.

Selamat!

Dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin mengalir di dahi, aku akan tiba di seberang bukit. Kakipun tiba-tiba akan terasa lebih ringan. Nyawaku terselamatkan, aku masih hidup dan bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah.

“Mengapa kenangan ini tiba-tiba muncul ya?”

——

Aku tersenyum. Gemerisik hujan masih terdengar di luar. Sudah hampir jam 7. Kuhabiskan sisa kopi di gelas yang telah dingin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.
%d bloggers like this: