Merawat benih investasi, akankah tumbuh dan berkembang (Part 1)?

“Pak, investasi di Saham, gak?”

Gita bertanya secara tiba-tiba lewat Whatsapp message. Gita adalah rekan kerja di kantor.

“Enggak Git, but I’d love to learn about it”, jawabku

Percakapan singkat ini merupakan langkah pertamaku menapaki perjalanan investasi di akhir tahun lalu. Beberapa bulan berselang dan tentu saja masih terlalu dini untuk menilai keberhasilannya. Namun yang pasti aku sangat menikmati proses pembelajaran hingga saat ini.

Tulisan ini adalah dokumentasi perjalanan pribadi yang ingin aku tulis dalam beberapa seri. Aku bukan seorang ahli pengelolaan keuangan ataupun ahli investasi. Namun aku suka menulis.

Harapanku, semoga saja tulisan ini berguna juga bagi kalian yang baru mulai merencanakan melakukan investasi. Aku belum tahu apakah akan gagal atau berhasil nantinya. Tapi paling tidak, dengan membaca catatan ini kalian tidak perlu mengalami hal yang sama terantuk di batu kerikil ataupun jatuh ke lubang yang sama tempat aku jatuh.

“Knowing and start acting are two different things”

Ketika kita paham akan sesuatu hal yang baik, bukanlah jaminan kita akan melakukannya. Kita harus berada pada situasi (konteks) dan didorong oleh mekanisme yang tepat sebelum akhirnya kita memutuskan untuk melakukan hal yang baru.

Prinsip dasar dari investasi sebenarnya sudah kupahami sejak lama. Namun entah mengapa tidak pernah aku jalani secara serius dalam hal mempelajarinya secara lengkap dan mulai melakukan investasi. Memahami dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Walaupun aku telah paham tentang prinsip investasi tapi butuh waktu lama hingga dan tiba-tiba pembicaraan singkat dengan Gita yang kemudian memotivasiku untuk mulai berinvestasi.

Apa itu Investasi?

Bagiku, investasi adalah bertumbuh. Intinya dana kita harus bertumbuh seiring berjalannya waktu. Tentu saja harapannya adalah dana kita bertumbuh lebih tinggi dari tingkat inflasi.

Lalu apa itu inflasi? Mengapa inflasi penting untuk kita pahami?

Inflasi secara sederhana adalah kenaikan harga. Dalam tiga tahun terakhir rata-rata tingkat kenaikan harga di Indonesia, atau inflasi, sekitar 3%. Artinya harga beras 10kg tahun lalu misalnya adalah Rp. 100,000, maka dengan inflasi 3%, harganya tahun ini naik menjadi Rp. 103,000. Uang kita yang tadinya cukup membeli 10kg di tahun lalu, sudah tidak cukup lagi di tahun ini. Begitu seterusnya. Sesederhana itu. Ini berarti walaupun secara jumlah uang kita tetap sama dari tahun ke tahun, tapi secara nilai sebenarnya terus menurun dan kemampuan membeli kita semakin berkurang.

Lalu investasi apa yang bisa mengalahkan inflasi? Sebelum kita bicara tentang investasi mari kita lihat dulu pondasi penting apa yang harus ada sebelum kita memulai investasi, yaitu kemampuan mengelola keuangan.

Pengelolaan keuangan sebagai pondasi

Jika kamu merasa telah mampu mengelola keuangan secara baik maka bagian ini bisa dilewati. Bagi kamu yang masih kesulitan untuk mengelola keuanganmu maka bagian ini penting untuk dipahami secara baik. Mengelola keuangan adalah mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan secara sehat. Kuncinya sederhana yaitu merencanakan pengeluaran di awal bulan dan secara disiplin melakukan pembelanjaan sesuai rencana.

Dua hal penting yang aku pelajari dalam hal pengelolaan uang adalah, pertama, sisihkan tabungan di awal bulan. Menabung bukanlah menyisihkan sisa belanja bulanan kita di akhir bulan tapi direncanakan di awal bulan. Jika menunggu sampai ada sisa belanja diakhir bulan, maka kita tidak akan pernah bisa menabung karena pada umumnya susah untuk menahan diri ketika kita memiliki kemampuan untuk membeli.

Kedua, setelah memiliki rencana lakukan pengeluaran sesuai rencana bulanan. Tantangan terberat pada diri kita pada umumnya ada di hal kedua ini. Kita seringkali tidak mampu mengontrol emosi untuk berbelanja hal-hal di luar dari rencana bulanan kita.

Bagaimana cara mengatur rencana alokasi pengeluaran kita? Paling mudah adalah mengingat pembagian besaran porsinya dan bagiku komposisi strategi sepak bola 3 – 5 – 2 cukup terbukti berguna dan seimbang selama ini. Kamu bisa menyesuaikan pembagian porsi ini sesuai keadaan keuanganmu.

30%Menabung Untuk Kebutuhan Jangka Panjang (eg. Rumah, Pendidikan, Pensiun)
50%Pengeluaran Rutin (bisa dibagi lagi untuk makanan, listrik, air, transportasi dsb)
20%Menabung untuk kesenangan (eg. membeli HP, jalan-jalan, dan lainnya)

Perlukah kita mencatat pengeluaran kita? Bagi keluargaku penting, dan masih terus kami lakukan setiap bulannya. Mencatat pengeluaran membantu kami untuk bisa menganalisa di akhir bulan apakah pengeluaran bulan itu tepat atau ternyata berkelebihan. Melakukan pencatatan keuangan sangatlah mudah, bisa di buku tulis terpisah atau menggunakan berbagai applikasi android di Playstore atau di Appstore yang tersedia gratisan atau berbayar.

Investasi

Strategi investasi yang paling umum bagi kita semua adalah dengan menabung, entah di celengan, amplop, lemari pakaian, bawah kasur, ataupun di lembaga keuangan seperti koperasi, dan Bank. Kebiasaan menabung merupakan dasar penting dari investasi. Menyisihkan dana hari ini untuk keperluan masa yang akan datang harus telah menjadi suatu kebiasaan.

Kegunaan menabung telah kita pahami bersama, agar kita bisa membiayai berbagai keperluan di masa yang akan datang seperti pendidikan dan kesehatan, ataupun melindungi kita di saat keadaan darurat seperti sakit, kecelakaan atau mengalami bencana. Menabung juga diperlukan untuk membiayai keinginan-keinginan dan kesenangan-kesenangan kita seperti membeli HP atau melakukan perjalanan liburan.

Pertanyaan penting kita sekarang adalah apakah kebiasaan menabung kita sudah memadai untuk bisa mengalahkan persoalan kenaikan harga yang kita bahas di awal tadi? Mari kita lihat opsi-opsinya;

Dari berbagai pilihan di atas keihatannya menabung di Koperasi dan Deposito Bank merupakan piihan yang lebih baik untuk mengalahkan inflasi 3% setahun. Simpanan di Bank menunjukkan bahwa selain bunganya yang kecil, biaya administrasi pun cukup tinggi, tidak akan mampu melawan inflasi. Apabila dana kita belum terlalu besar maka biaya administasi setiap bulan bisa lebih tinggi dari bunga yang kita peroleh.

Untuk itu simpanan di Bank sebaiknya hanya digunakan untuk keperluan mendadak agar aman dibandingkan disimpan di rumah. Namun hindari menyimpan dana besar dalam jangka waktu yang panjang karena sebenarnya dana kita ini bisa berkembang jika kita investasikan di produk investasi yang tepat.

Lesson 1 – Gunakan simpanan di Bank untuk menampung dana sementara dan darurat agar aman dan mudah diambil jika diperlukan

Deposito kelihatannya merupakan pilihan menarik untuk mengalahkan inflasi. Namun jangan dilupakan bahwa bunga deposito memiliki pajak yang tinggi yaitu 20%.

Apakah ada pilihan investasi lain selain pilihan menabung di atas?

Ada beberapa pilihannya. Mari kita lihat di diagram ini dan kita bahas satu per satu.

Tanah dan Property

Berinvestasi di tanah dan property bisa merupakan pilihan yang bagus karena kita semua paham bahwa harga tanah dan property selalu naik setiap tahunnya. Tergantung lokasinya, kenaikan harga tanah bisa naik secara eksponential (berlipat-lipat) dan sangat menguntungkan.

Namun ada juga kekurangan dari investasi di tanah dan property yaitu tingkat likuiditasnya. Tanah tidak secara mudah bisa diperjualbelikan. Butuh waktu untuk mencari pembeli dan butuh waktu dalam melakukan proses jual beli. Jika membutuhkan dana segera, kita tidak bisa secara cepat menguangkannya.

Property membutuhkan perawatan secara teratur dan malah menjadi biaya yang harus kita keluarkan apabila kita tidak menginvestasikannya lagi misalnya dengan disewakan.

Obligasi Pemerintah

Obligasi adalah surat berharga negara di singkat SBN, atau mudahnya kita sebut surat hutang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Dalam menjalankan pembangunan ada banyak sumber pendanaan yang bisa digunakan oleh pemerintah, salah satunya obligasi. Membeli obligasi berarti kita memberikan pinjaman kepada pemerintah. Menarik bukan?

Obligasi bisa menjadi pilihan bagus untuk investasi kita karena selain bunganya yang bersaing dengan Deposito, juga pajak atas bunga yang relatif lebih rendah. Kita ketahui bunga deposito sebesar 5% per tahun sedangkan bunga obligasi pemerintah yang saat ini sedang ditawarkan SR014 sebesar 5,47% per unit per tahun dan dibayarkan setiap bulan. Jika kita bandingkan, pajak deposito sebesar 20%, sedangkan pajak SBN lebih rendah, misalnya saja salah satu SBN, SR017, sebesar 15%.

Lesson 2 – Dibandingkan Deposito, investasi di SBN sebenarnya lebih menguntungkan

Berikut adalah ilustrasi jika kita berinvestasi di SBN atau sering juga disebut obligasi:

Sumber: https://www.bareksa.com/berita/sbn/2021-01-25/beli-ori019-rp1-juta-berapa-kupon-bersih-per-bulan

Dari nilai nominal Rp. 1 juta kita mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp. 3,945 per bulan atau sejumlah Rp. 47,340 per tahunnya. Apabila dana kita Rp. 10 juta maka pertumbuhan dana kita menjadi Rp. 470 ribu per tahun. Bayangkan jika kita hanya menyimpan uang 1 juta tadi di Bank, malah akan dipotong sebesar Rp. 15,000 hingga Rp. 25,000, dan akan terus berkurang setiap bulannya.

Lalu bagaimana cara membeli SBN ini?

Pemerintah tidak menawarkan obligasi setiap waktu, hanya dalam waktu-waktu tertentu saja. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan pendaftaran dan mendapatkan SID (Single Investor Identification).

SID ini sangat penting karena akan bisa kita gunakan ketika melakukan investasi di produk-produk lainnya. Mendapatkan SID bisa di Bank ataupun di perusahaaan sekuritas seperti Indopremier, Bibit, Bareksa dan perusahaan-perusahaan lainnya. Setelah kita memiliki SID ini maka kita sudah bisa melakukan pemesanan.

Aku lebih suka dengan transaksi internet banking jadi pilihanku adalah membeli SBN atau obligasi adalah langsung lewat internet banking.

Reksa Dana

Reksa dana, atau bahasa Inggrisnya disebut mutual funds, adalah sekumpulan dana bersama para investor atau pemodal yang dikelola oleh manajer investasi profesional.

Intinya kita menunjuk orang lain (perusahaan profesional) untuk mengelola dana kita. Jangan kawatir, perusahaan-perusahaan pengelola dana pemodal ini harus terdaftar dibawah Otoritas Jasa Keuangn (OJK) sehingga aman. Ada sekitar 100-an Manajer Investasi di Indonesia. Tentunya ibarat toko tidak semuanya bagus, jadi kita harus pandai-pandai memilih.

Sekarang mari kita pahami satu per satu jenis-jenis reksa dana ini.

Reksa Dana Pasar Uang (Money Market) – Manajer investasi hanya melakukan investasinya pada Efek bersifat Utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal. Resiko Investasi Reksa Dana Pasar Uang diklasifikasikan rendah namun tetap mendukung perkembangan dana kita.

Di atas adalah contoh kinerja dua Reksa Dana pasar uang. Tabel pertama, jika dilihat, apabila dana kita tersimpan selama setahun penuh maka pengembangan nilainya mencapai sebesar 6.49%, lebih tinggi dari inflasi yang kita bahas di awal, dan masih lebih baik dari Deposito maupun SBN. Kita berhasil melindungi “nilai” dana kita dari inflasi.

Grafik yang cenderung terus naik menunjukkan bahwa memang menyimpan dana di Reksa Dana pasar uang akan terus bertumbuh tanpa ada fluktuasi (naik/turun) apapun. Sayangnya, jika ingin memaksimalkan pertumbuhan dana maka Reksa Dana Pasar Uang tidak memberikan keuntungan semaksimal dibandingkan dengan saudara-saudaranya.

Lesson 3 – Reksa Dana Pasar uang bisa mengalahkan inflasi dan juga lebih baik dari Deposito ataupun SBN, namun potensi pengembangan dana tidak sebesar Reksa Dana lainnya.

Ketika memahami bahwa Reksa Dana Pasar Uang jauh lebih baik daripada memarkir dana simpanan di Bank maka aku pun mulai memindahkan dana dari Bank ke pasar uang.

Tetapi, aku tidak memindahkan seluruh dana dari Bank, ada sejumlah kecil dana emergency yang tetap aku tinggalkan agar bisa diambil sewaktu-waktu jika diperlukan. Yang disarankan oleh para penasihat keuangan adalah, sebelum kita mulai berinvestasi di berbagai produk pastikan kita memiliki paling sedikit dana cadangan sebesar 6 bulan gaji. Jadi janganlah menggunakan semua dana yang kamu miliki untuk berinvestasi.

Ada dua produk reksa dana yang ku pilih Succorinvest Money Market dan Syaliendra Dana Kas. Sejak memindahkan dana dua bulan yang lalu, dana investasiku telah naik sebesar (+/-) 1%. Kelihatannya kecil, tapi bayangkan jika danamu berjumlah Rp.100 juta, maka telah terjadi kenaikan sebesar Rp. 1 juta.

Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income) 

Jenis reksa dana yang kedua adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap, atau Fixed Income Mutual Funds. Untuk Reksa Dana jenis ini manajer investasi akan melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari asetnya ke bentuk Efek bersifat Utang, atau obligasi. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil walaupun resikonya lebih besar dari pasar uang.

Mari kita lihat dua contoh kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap di atas. Di tabel kinerja pertama, bisa kita lihat perkembangan dana cukup pesat terjadi selama 3 tahun. Jika kita memiliki dana Rp. 100 jt dan menyimpan dana selama 3 tahun sejak diluncurkan maka jumlahnya telah berubah menjadi Rp. 122 juta.

Grafik kedua menarik untuk kita cermati karena ada dua hal yang bisa kita petik. Pertama, dana kita cenderung terus meningkat stabil dari tahun 2016 sampai 2020 dan meningkat nilainya mendekati kenaikan sebesar 50%. Walaupun ada sedikit bergelombang, sebenarnya dana kita menunjukkan kenaikan.

Hal penting kedua yang bisa kita tangkap dari grafik di atas adalah pola fluktuasi (naik/turun). Reksa Dana Pendapatan Tetap menunjukan tingkat fluktuasi (naik/turun) yang lebih sering dibandingkan dengan grafik Reksa Dana Pasar Uang sebelumnya yang cenderung stabil naik.

Bayangkan jika kita membeli Reksa Dana ini di bulan December 2017, selama setahun kemudian hingga December 2018, dana kita malah terus menurun. Sebagian dari kita bisa saja akan panik dan cepat-cepat menarik dananya.

Tapi cobalah lihat apa yang terjadi setelah bulan December 2018, kinerjanya terus meningkat hingga ke tingkat 50% di tahun 2020. Jadi penting untuk kita pahami bahwa apabila kita meletakkan dana di Reksa Dana Pendapatan Tetap, walaupun akan meningkat nantinya tapi pasti akan terjadi pola naik turun seiring perjalanan waktu. Ada masa dimana dana kita akan turun beberapa waktu lamanya.

Reksa Dana Pendapatan Tetap dikategorikan sebagai investasi dengan resiko tingkat menengah  dan cocok untuk investor bertipe konservatif.

Aku sudah tidak muda lagi. Dana simpananku adalah bekal untuk pensiun nanti maka aku tidak ingin mengambil resiko terlalu tinggi. Porsi alokasi untuk Reksa Dana Pendapatan cukup besar porsinya dari semua alokasi investasiku.

Tabel di bawah adalah empat produk Reksa Dana Pendapatan Tetap yang aku miliki saat ini beserta kinerjanya setelah dua bulan investasi. Bisa terlihat, jumlah dana investasiku saat ini justru minus sekitar 2.2% dari jumlah awal.

Apakah ini membuatku kawatir? Belum, karena aku tahu situasi akan membaik dan harusnya prosentasinya akan naik juga nanti. Mari kita buktikan ya.

Sucorinvest Bond Fund+ 0.06%
Ashmore Dana Obligasi– 5.87%
ABF Indonesia Bond Index Fund– 1.1%
RHB Fixed Income Fund 2– 1.43%
Overall % Gain/Loss-2.2%

Data per 28 February 2021

Lesson 4 – Reksa Dana Pendapatan menawarkan keuntungan lebih besar dari Reksa Dana Pasar Uang namun yakinlah akan ada fluktuasi. Jika terjadi penurunan, bersabarlah, orientasi kita adalah jangka panjang, penurunan ini hanyalah sementara.

Reksa Dana Campuran (Balanced Fund) 

Sesuai namanya Reksa Dana Campuran menginvestasikan dana investor secara beragam yaitu di instrumen saham, obligasi dan juga pasar uang. Reksa dana Campuran bisa memberikan keuntungan yang lebih besar dari pada Reksa Dana Pendapatan Tetap namun tentu saja dengan resiko yang lebih tinggi. Mari kita lihat dua contoh Reksa Dana Campuran berikut.

Dua hal yang sama kita temui di Reksa Dana Pendapatan terlihat juga di Reksa Dana Campuran. Yang membedakan adalah tingkat fluktuasinya (naik/turun) yang semakin tinggi, baik turun secara dalam atau naik tajam. Namun untuk jangka waktu 3 – 5 tahun, produk ini sangat menjanjikan.

Reksa Dana Campuran yang aku miliki adalah Sucorinvest Dana Berimbang kinerjanya sejak awal investasi paling baik, dengan tingkat peningkatan saat ini mencapai 9.78% dan mampu membuat portfolio Reksa Dana ku secara keseluruhan menjadi positif walaupun empat produk Reksa Dana Pendapatanku minus.

Reksa Dana Saham (Equity Fund)

ReksaDana Saham sesuai namanya adalah Reksa Dana yang menginvestasikan sebagian besar dana investor ke instrumen saham. Paling sedikit 80% dari dana investor akan diinvestasikan ke saham dan sisanya ditempatkan di instrumen pasar uang maupun obligasi.

Reksa Dana Saham memiliki tingkat resiko yang paling tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis Reksa Dana lainnya. Mari kita lihat dua contoh kinerja Reksa Dana Saham yang ada.

Dengan resiko yang paling tinggi, Reksa Dana Saham memberikan pengembangan yang paling tinggi dibandingkan dengan reksa dana yang lain. Bisa dilihat dua Reksa Dana ini sejak diluncurkan telah berkembang sebesar 89% dan 131%. Tentu saja high profit mengimplikasikan high risk. Tidak semua produk Reksa Dana Equity akan selalu menguntungkan apalagi dalam jangka pendek. Itulah kenapa disarankan apabila kita berinvestasi di Reksa Dana saham, orientasi kita haruslah berjangka panjang, 5-10 tahun.

Untuk Reksa Dana Saham, aku hanya memiliki satu produk yaitu Sucorinvest Sharia Equity Fund dan baru menunjukkan peningkatan sebesar 0.24% sejak dua bulan lalu.

Akan sangat menarik untuk melihat berbagai perkembangan ke-empat jenis Reksa Dana yang aku miliki ini di masa yang akan datang. Tentu saja, sesuai janji aku akan terus mengamati dan menuliskan perkembangan pembelajaran dari semua Reksa Dana miliku ini nanti.

Biaya Reksa Dana

Adakah biaya untuk berinvestasi Reksa Dana? Ibarat menggunakan jasa orang lain, tentu saja Reksa Dana ada biayanya. Kita harus membayar jasa perusahaan yang mengelola dana kita. Besarnya biaya disesuaikan dengan tingkat resiko jenis Reksa Dana. Semakin tingi resiko dan potensi pengembangan, semakin mahal biayanya. Ada 3 jenis biaya yang dibebankan yaitu biaya beli, biaya jual dan biaya pengalihan (jika kita mengalihkan dana dari Reksa dana yang satu ke lainnya).

Untuk beberapa perusahaan sekuritas Biaya pembelian bahkan digratiskan. Reksa Dana Pasar Uang biasanya membebankan sebesar 1%, Pendapatan Tetap sebesar 1.5%, sedangkan Reksa Dana Campuran dan Reksa Dana Saham antara 2 – 3%

Bagaimana cara membeli Reksa Dana

Kita berada di masa dimana semua kemudahan ada di depan mata kita dengan adanya perkembangan tehnologi komunikasi dan penetrasi internet yang sangat cepat dan luas.

Berinvestasi Reksa Dana tidak lagi serumit setahun atau dua tahun yang lalu. Saat ini semua nya bisa dilakukan secara online. Dampak pandemi COVID-19 memaksa para pihak untuk selalu berinovasi termasuk juga di dunia investasi.

Cara membeli Reksa Dana adalah melalui Perusahaan sekuritas, yaitu perusahaan yang sudah mengantongi ijin usaha dari OJK untuk bisa melakukan kegiatan usaha sebagai pihak perantara antara kita dan pasar modal (saham, reksa dana).

Kita membeli Reksa Dana yang dikelola oleh Perusahaan Manajer Investasi melalui Perusahaan Sekuritas sebagai perantara.

Saat ini kita dengan mudah bisa melakukan pendaftaran secara online ke berbagai perusahaan sekuritas. Yang dibutuhkan hanyalah KTP dan NPWP.

Hal pertama yang kita lakukan adalah men-download applikasi Perusahaan Sekuritas di gadget kita, lalu kiita tinggal mengisi form secara online, mengunggah foto KTP, NPWP dan foto diri sambil memegang KTP. Biasanya hanya membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari maka akun kita telah tersedia dan kita telah bisa mulai berinvestasi.

Bahkan jumlah investasi pun tidak perlu besar. Jumlah terendah investasi kita bisa dimulai dari Rp. 100 ribu, seharga 2 atau 3 gelas kopi di Coffee shop.

Perusahaan sekuritas yang aku gunakan saat ini adalah; Indopremier, Ajaib , Bibit, dan Bareksa. Dari keempat perusahaan ini, Bibit dan Bareksa mengkhususkan pada produk Reksa Dana dan Obligasi, sedangkan Indopremier dan Ajaib selain produk Reksa Dana, juga memungkinkan kita untuk membeli dan menjual saham.

Amankah Dana Kita?

Semua kegiatan investasi keuangan apabila terdaftar di OJK tentu saja aman karena diawasi Pemerintah.

Pihak Sekuritas hanyalah pihak perantara yang menghubungkan kita dengan para Manajer Investasi.

Para Manajer Investasi tidak memegang dana kita, mereka hanya bertugas untuk membeli dan menjual berbagai produk investasi (saham, obligasi, surat utang dsbnya).

Para manejer investasi tidak akan bisa melarikan dana kita karena sebenarnya dana kita dipegang oleh Bank Kustodian, yaitu Bank-Bank yang kita ketahui lazimnya. Mereka bertugas untuk mengurus segala proses administrasi dari investasi kita.

Secara teratur mereka akan selalu mengirimkan laporan perkembangan dana kita. Semua kegiatan seputar investasi ini seluruhnya berada dibawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan Pemerintah Indonesia (OJK).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s