Merawat benih investasi, akankah tumbuh dan berkembang (Part 2)?

Enam bulan berlalu sejak Part 1, sesuai janji saya, secara berkala saya akan berbagi bagaimana perkembangan benih-benih investasi yang akhir tahun lalu disemaikan. Selain itu saya juga akan berbagi tentang pembelajaran apa saja yang saya petik selama enam bulan ini.

Semoga Anda yang kebetulan membaca catatan sederhana ini mendapatkan manfaatnya.

Baiklah, sebelum berbagi tentang kemajuan hasil investasi, saya akan membahas dulu apa tujuan investasi saya. Ini penting karena tujuan investasi akan menentukan strategi dan pilihan-pilihan produk yang kita ambil. So here it is.

Usia saya sudah tidak muda lagi. Karena telah mendekati usia pensiun, maka tujuan investasi saya terfokus pada pengumpulan dana untuk masa pensiun. Jika kalian berumur 20an atau 30an tentu saja tujuan investasinya akan berbeda, bisa saja untuk persiapan berumah tangga, membangun rumah, membeli mobil, dana liburan atau pendidikan anak.

Saat ini saya berumur 46 tahun dan ini berarti masih bisa bekerja paling tidak 5 hingga 10 tahun lagi sebelum pensiun.

Kok cepat-cepat pensiun, tapi kan belum masuk umur pensiun?

Saya merasa harus lebih realistis. Dengan perkembangan jaman rasanya sulit untuk bisa terus berkompetisi ketika telah mencapai umur 50an nanti. Kalaupun masih bisa bekerja pastinya saya tidak akan mengharapkan bisa seproduktif sekarang ini.

Oleh karena itu strategi investasi saya adalah memaksimalkan pengumpulan dana pensiun dalam 5 – 8 tahun ke depan. Tujuan investasi ini tentu saja mempengaruhi produk-produk investasi yang saya pilih nantinya.

Dalam enam bulan ini pun saya mengkonsolidasi fondasi finansial keluarga agar bisa menjadi tumpuan (buffer) jika terjadi situasi kedaruratan (shocks) seperti sakit, bencana ataupun kematian (vulnerability).

Bangunan fondasi yang saya maksudkan terbagi atas tiga aspek utama; Asset dan Property, Dana Darurat dan Asuransi. Ketika ketiga hal ini telah kita siapkan maka strategi investasi kita akan lebih optimal. Saya pun bisa fokus kepada pengembangan nilai investasi untuk tujuan Investasi Jangka Menengah atau Jangka Panjang.

Apakah semua aspek fondasi harus ada dulu baru bisa mulai berinvestasi?

Tidak mesti, dan menurut hemat saya, memang harus dilakukan secara parallel, namun dengan pembobotan berbeda dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan tujuan investasi kita.

Di saat kita masih muda tentu saja pembobotan untuk penguatan tiga aspek fondasi keuangan keluarga menjadi lebih besar dari investasi jangka menengah atau panjang.

Dari tiga komponen fondasi keuangan (Asset/Property, Dana Darurat dan Asuransi) menurut saya yang paling penting adalah Dana Darurat dan Asuransi. Kedua hal ini harus ada setiap saat dan tidak bisa ditawar. Ibarat struktur utama dari fondasi, jika buruk kualitasnya tentu saja rumah kita akan rapuh .

Ketika kita telah menyiapkan dana darurat, kita tidak akan kesulitan apabila kehilangan pekerjaan. Dana darurat masih bisa menopang kehidupan kita sementara sambil mencari pekerjaan yang baru. Pada saat sakit, asuransi yang kita miliki akan membantu menalangi biaya tanpa mengganggu dana darurat kita.

Penyimpanan dana darurat saya letakkan di dua pos keuangan; tabungan di Bank dan Reksa Dana Pasar Uang. PIlihan pertama di Bank untuk mengantisipasi kebutuhan darurat segera, agar mudah bisa di ambil setiap saat. Sedangkan Reksa Dana Pasar Uang untuk kebutuhan darurat yang masih bisa menunggu 1-2 pencairan dana.

Untuk asuransi, kami sudah memiliki asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, namun saya sendiri belum memiliki asuransi sakit berat, atau critical illness insurance. Asuransi critical illness baru saja saya peroleh beberapa minggu lalu setelah menyeleksi beberapa pilihan asuransi yang ada. Sebenarnya, semakin awal Anda membeli asuransi criticial illness semakin murah premi tahunan yang harus dibayarkan, jadi sebisa mungkin belilah asuransi jenis ini ketika masih muda.

Ok tadi tentang tujuan investasi dan fondasi dasar investasi, lalu bagaimana dengan strategi alokasi investasi saya?

Alokasi investasi saya bagi dalam tiga kategori; Low, Medium dan High Risks. Berikut adalah pengaturan proporsi dari seluruh aset finansial yang saya miliki saat ini. Komposisinya berbeda dengan ketika saya baru mulai berinvestasi. Kelihatannya saya semakin lebih aggresive dengan proporsi resiko tinggi yang lebih besar dari resiko lainnya.

Jika kita lihat lebih detail, setengah dari seluruh alokasi investasi masuk ke produk-produk dengan resiko tinggi (high risk), dengan tingkat fluktuasi yang tinggi tentunya (volatile). Setengahnya lagi terbagi di Medium Risk; Reksa Dana Obligasi dan Low Risk (Reksa Dana Pasar Uang dan Surat Berharga Negara).

Komposisi ini akan saya pakai hingga 5-8 tahun ke depan. Saat nanti saya tidak produktif (tidak bekerja lagi) maka seluruh dana dari produk-produk high risk akan saya alihkan ke medium dan low risk.

Ok bagaimana dengan progress setelah enam bulan ini? Mari kita lihat perkembangan berbagai Reksa Dana yang sejak Part 1 ditulis lalu.

Reksa Dana Pasar Uang

Produk% Gain or Loss
Sucorinvest Money Market3%
Syailendra Dana Kas2,3%
Total2,3%

Sesuai prediksi, perkembangan dana Reksa Dana Pasar Uang bergerak mendekati 2,5% jika perkembangan tetap berlanjut maka di akhir tahun nanti harusnya bisa meningkat sebesar 5% maksimal. Reksa Dana Pasar Uang dengan tingkat resiko yang rendah berkembang sesuai target dan harapan, pelan tapi terus naik.

Reksa Dana Obligasi (Pendapatan Tetap atau RDPT)

Produk% Gain or Loss
ABF Bond Index Fund1,9%
Ashmore Dana Obligasi– 2,9%
Sucorinvest Bond Fund1,4%
Total0,1%

Perjalanan Reksa Dana obligasi selama enam bulan di tahun 2021 ini cukup menarik, karena setelah pembelian di awal tahun, semua produk reksa dana yang saya beli cenderung terus menurun. Namun saat ini hampir semua produk sudah kembali naik menjadi positif kecuali produk Ashmore Dana Obligasi. Untuk keperluan pembelian asuransi tahunan critical illness, saya harus menjual salah satu Reksa Dana (RHB2) yang juga telah positif saat itu.

Reksa Dana Campuran (Balanced Fund)

Produk% Gain or Loss
Sucorinvest Citra Dana Berimbang13,6%
Trimegah Balanced Absolute Strategy3,8%
Total8,2%

Reksa Dana Campuran menjadi juara dari semua jenis produk Reksa Dana yang saya miliki dengan total pertumbuhan sebesar 8,2%. Dari dua produk Reksa Dana Campuran, Produk Sucorinvest Citra Dana Berimbang berkembang cukup besar walaupun di awal tahun sempat di suspend oleh OJK.

Reksa Dana Saham

Produk% Gain or Loss
Sucorinvest Syariah Equity Fund-5,7%
Total-5,7%

Sedangkan untuk Reksa Dana Saham, hanya satu yang saya miliki yaitu Sucorinvest Syariah Equity Fund, dan saat ini masih menunjukkan hampir -6%. Tapi saya tidak kawatir karena Reksa Dana Saham, orientasi waktu saya adalah > 5 tahun.

Selain produk-produk Reksa Dana saya juga mendiversifikasi investasi saya ke produk-produk lain seperti, pembelian saham, peer to peer lending, obligasi pemerintah dan asset crypto. Berikut adalah ringkasan dari semua produk investasi saya beserta data progressnya di tengah tahun 2021 ini.

Portfolio Investasi

Produk% of Portfolio% Gain or Loss
Stock (Saham)12%-9%
Reksa Dana Pasar Uang24%2,3%
Reksa Dana Obligasi25%0,1%
Reksa Dana Campuran19%8,2%
Reksa Dana Saham9%-5,7%
Peer to Peer Lending8%3%
Bond (Surat Berharga Negara)3%1,5%
Asset Crypto1%-22%
Total100%0,5%

Perjalanan setengah tahun 2021 menunjukkan bahwa portfolio saya masih jauh dari target mengalahkan inflasi 3% per tahun. Saat ini baru menunjukkan 0,5% pertumbuhan nilainya.

Portfolio Berdasarkan Resiko

Risk LevelProduk% of Portfolio% Gain or Loss
LowMoney Market
Bond
27%2,2%
MediumFixed Incomes25%0,1%
HighStocks
Balanced Funds
Equity Funds
Peer to peer lending
Crypto Assets
48%-0,2%
Total100%0,5%

Oleh karena proporsi terbesar saya adalah di produk-produk beresiko tinggi dan tingkat pengembangannya masih minus, ini menjadi penyebab utama nilai total pengembangan masih jauh di bawah target inflasi 3%.

Lalu apa pembelajaran yang saya peroleh selama enam bulan ini?

Amankan fondasi keuangan sebelum berpikir tentang investasi, seperti yang saya sampaikan di atas. Alangkah baik apabila fondasi keuangan kita ditata secara baik dulu sebelum mulai melakukan investasi. Paling tidak dana darurat, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sudah kita miliki. Banyak orang yang tergiur untuk cepat-cepat terjun ke dunia investasi tanpa mempertimbangkan fondasi penting ini. Oh yang pasti, dana investasi haruslah dana milik kita sendiri, bukan dana pinjaman tentunya.

Tentukan apa tujuan investasi mu, tentukan dulu apa tujuan investasimu karena ini akan menentukan rentang waktu investasi dan juga produk-produk yang nanti dipilih.

Pahami dengan baik produk investasi yang kita beli, saya menyukai analisa sehingga saya memastikan saya paham dengan baik produk-produk yang saya beli, baik saham maupun reksa dana. Jika membeli saham, pastikan kalian telah bisa melakukan analisa fundamental sederhana perusahaaannya, jika membeli reksa dana, luangkan waktu mempelajari fund fact sheet untuk memahami kinerja dan apa saja alokasi utama reksa dana tersebut. Pastikan juga untuk sudah melakukan analisa perbandingan berbagai reksa dana dari berbagai manajer investasi.

Bereksperimen dan konsolidasi, para investor pemula tentu saja ingin mencoba banyak hal dan membeli banyak produk. Itupun saya lalui. Kemudahan membeli saham dan reksa dana membuat saya ingin memiliki banyak produk. Setelah beberapa bulan saya menyadari bahwa ini tidak efektif. Secara perlahan saya pun mulai melakukan konsolidasi dalam arti membersihkan portofolio. Saham-saham yang fundamentalnya kurang bagus saya jual. Pembelian top-up reksa dana setiap bulan pun saya sesuaikan dengan tujuan investasi, tidak lagi secara merata ke semua produk.

Konsolidasi selanjutnya yang saya rencanakan adalah mendiversifikasi Reksa Dana Pendapatan yang saya miliki. Ketika saya pelajari ternyata ketiga jenis produk RDPT di portfolio saya mayoritas alokasinya di obligasi-obligasi pemerintah. Kemungkinan saya akan menukar (switch) salah satunya, misalnya, Reksa Dana Ashmore Dana Obligasi dengan produk RDPT yang komposisi alokasinya kepada obligasi korporasi.

Sabar – Melihat portofolio kita merah tentu saja bisa membuat kita cemas, sekali lagi tetaplah sabar dan ingat kembali tujuan kita dalam investasi. Jika wawasan kita untuk suatu tujuan jangka panjang maka tidaklah perlu untuk kawatir, ingatlah investasi seperti lari Marathon bukan Sprint 100 meter, jalan kita masih panjang dan kalau melihat sejarah, polanya akan terus naik.

Semoga berguna dan sampai jumpa enam bulan lagi!

5 Replies to “Merawat benih investasi, akankah tumbuh dan berkembang (Part 2)?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s